Monday, May 23, 2011

cerpen tak berjudul Part 2

28 Februari 2010...
“Toni! Airnya jangan dibuang-buang!!!” terdengar sebuah seruan dari dalam rumah. Ibu. Beliau meneriakiku yang sedang main pistol-pistolan air dengan Rafa, sepupu kecilku.. Ah, masa bodohlah! Siapa peduli. Orang lagi seru main sama sepupu juga. Ibu geleng-geleng kepala melihat ulahku. Aku pun begitu. Semakin dilarang, aku semakin berniat menentangnya.
“Toniii!!! Kamu nggak dengar ya?! Ibu bilang apa?!!! Berhenti!!!” Hellooo!!! Aku muak! Kenapa sih, aku dilarang-larang main air. Semua warga bumi juga tahu, jumlah air kan unlimited. Belom lagi kalo kutub mencair. Jadi, kalopun aku mau main air sebanyak yang aku mau, itu nggak ada pengaruhnya.
“Sudah! Berhenti! Cepat masuk, ganti baju!” perintah ibu sambil menarikku dan menjewer telingaku. Ah! Sebal!!!
***
21 Januari 2050...
Itulah gambaranku 40 tahun yang lalu. Sekarang aku telah berumur 57 tahun. Dan aku menjadi satu-satunya orang tertua di dunia dan masuk Guinness World Record. Namun, walaupun aku berumur 57 tahun, keadaanku sangatlah berbeda dengan orang-orang yang seusia denganku saat 40 tahun yang lalu. Kini aku bertubuh sangatlah kurus. Kulitku penuh koreng dan pecah-pecah karena dehidrasi dan sinar uv matahari yang kini semakin membahayakan. Ginjalku sudah rusak. Hal ini dikarenakan aku hanya minum 1,5 gelas air perhari. Rambutku botak dan aku telah mengalami kebutaan. Aku sudah tak mempunyai istri. Istriku meninggal di umur 38 tahun. Sekarang, rata-rata angka kematian umum terjadi di umur 30 tahunan. Kini, aku hanya tinggal berdua dengan putri tunggalku, Sarah yang masih berumur 12 tahun.
Dahulu, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan. Namun kini, orang-orang di bumi harus mencukur habis rambut mereka untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.
“Ayah, ini ayah. Handuknya sudah siap,” anak perempuanku, Sarah menyodorkan sebuah handuk basah kepadaku. Aku miris melihat nasib anakku. Tiap hari, ia bekerja untukku. Bekerja. Sekarang bekerja demi uang bukanlah hal yang dicari. Bekerja demi air. Semua orang sekarang bekerja hanya untuk sebotol air per harinya. Itulah gaji kami sekarang di tahun 2050.
Anakku Sarah, kemudian mengusapkan handuk basah tersebut ke sekujur tubuhku. Ya, sekarang kami mandi tidak memerlukan satu ember air ataupun sumur apalagi air ledeng. Kami semua sekarang mandi dengan selembar handuk basah yang diusapkan di sekujur tubuh kami.Aku menangis dalam kebutaanku. Walaupun aku tak dapat melihat, namun aku dapat merasakan kegersangan dimana-mana.
Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun semua sangat berbeda, masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah. Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering. Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus.
Aku masih teringat perkataanku saat aku masih kecil dahulu. Bumi tidak akan pernah kehabisan air, air di bumi ini jumlahnya tak terbatas. Namun aku salah. Sangat salah. Bumi kekeringan. Tak ada hujan. Tak ada lagi yang namanya pergantian musim. Yang terjadi hanyalah hujan asam yang setiap hari mengguyur atap rumah kami dan menimbulkan pengkaratan pada seng rumah kami. Timbalnya mencemari kulit kami yang semakin berkoreng.Karena hujan asam pula lah, jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau semakin sedikit. Hal tersebut membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang. Tiap hari kami ditagih petugas pajak udara. Pemerintah bahkan sekarang membuat pajak atas udara yang kami hirup: 150 m3 per hari = 3 galon air. Jika kami tak mampu membayarnya, kami akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi peralatan penyuplai oksigen raksasa bertenaga surya. Sebernarnya, udara yang terdapat di “kawasan ventilasi” tidak begitu baik. Namun cukup untuk kami bernapas dibandingkan udara di luar yang sepenuhnya debu dan tak ada lagi udara untuk bernapas.
Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air dan oksigen bersih sendiri. Namun kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata. Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Air di laut kini tak berguna lagi. Semuanya telah tercemar oleh limbah sampah yang kami buang dan timbal air hujan. Kami tak pernah lagi merasakan makanan laut.
“Ayah, sekarang makan dulu,” tiba-tiba Sarah membuyarkan lamunanku. Ia menyodorkan sepiring makanan sintetis kepadaku. Aku lalu mulai memakannya dengan lahap. Ya, sekarang makanan sintetis adalah makanan bagi kami semua. Tidak ada lagi yang namanya beras, roti ataupun jagung. Tanaman-tanaman tersebut telah punah. Setiap harinya kami harus makan makanan sintetis yang penuh dengan zat kimia yang semakin memperburuk keadaan kami.
“Ayah, kalau sudah selesai, piringnya kasih aku ya… Nanti biar Sarah buang,” kata anakku lalu pergi. Entah kemana. Tampaknya akan membuang sampah. Sampah. Kini, sejak air menjadi barang langka, kami tidak pernah lagi mencuci piring ataupun mencuci baju. Kami menggunakan pakaian bekas pakai langsung buang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.
“Ayah, ceritakan lagi dong, gimana sih keadaan bumi ini pas ayah kecil dulu?” tanya Sarah, anakku suatu kali.Lalu aku pun menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau.
Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.Lalu ia bertanya lagi, “Ayah, lalu mengapa tak ada air lagi sekarang? Terus, hewan-hewan kutub yang pernah ayah ceritakan itu sekarang tinggal dimana?” Aku tercekat. Rasanya seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokanku. Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya.
Aku menangis. Masih terngiang teriakan ibuku sewaktu aku kecil:“Toni!!! Airnya jangan dibuang-buang!!!”

cerpen tak berjudul Part 1

Ketika dunia terang, alangkah semakin indah jikalau ada sahabat disisi. Kala langit mendung, begitu tenangnya jika ada sahabat menemani. Saat semua terasa sepi, begitu senangnya jika ada sahabat disampingku. Sahabat. Sahabat. Dan sahabat. Ya, itulah kira-kira sedikit tentang diriku yang begitu merindukan kehadiran seorang sahabat. Aku memang seorang yang sangat fanatik pada persahabatan. Namun, sekian lama pengembaraanku mencari sahabat, tak jua ia kutemukan. Sampai sekarang, saat ku telah hampir lulus dari sekolahku. Sekolah berasrama, kupikir itu akan memudahkanku mencari sahabat. Tapi kenyataan dengan harapanku tak sejalan. Beragam orang disini belum juga bisa kujadikan sahabat. Tiga tahun berlalu, yang kudapat hanya kekecewaan dalam menjalin sebuah persahabatan. Memang tak ada yang abadi di dunia ini. Tapi paling tidak, kuharap dalam tiga tahun yang kuhabiskan di sekolahku ini, aku mendapatkan sahabat. Nyatanya, orang yang kuanggap sahabat, justru meninggalkanku kala ku membutuhkannya. “May, nelpon yuk. Wartel buka tuh,” ujar seorang teman yang hampir kuanggap sahabat, Riea pada ‘sahabat’ku yang lain saat kami di perpustakaan. “Yuk, yuk, yuk!” balas Maya, ‘sahabatku’. Tanpa mengajakku Kugaris bawahi, dia tak mengajakku. Langsung pergi dengan tanpa ada basa-basi sedikitpun. Padahal hari-hari kami di asrama sering dihabiskan bersama. Huh, apalagi yang bisa kulakukan. Aku melangkah keluar dari perpustakaan dengan menahan tangis begitu dasyat. Aku begitu lelah menghadapi kesendirianku yang tak kunjung membaik. Aku selalu merasa tak punya teman. “Vy, gue numpang ya, ke kasur lo,” ujarku pada seorang yang lagi-lagi kuanggap sahabat. Silvy membiarkanku berbaring di kasurnya. Aku menutup wajahku dengan bantal. Tangis yang selama ini kutahan akhirnya pecah juga. Tak lagi terbendung. Sesak di dadaku tak lagi tertahan. Mengapa mereka tak juga sadar aku butuh teman. Aku takut merasa sendiri. Sendiri dalam sepi begitu mengerikan. Apa kurangku sehingga orang yang kuanggap sahabat selalu pergi meninggalkanku. Aku tak bisa mengerti semua ini. Begitu banyak pengorbanan yang kulakukan untuk sahabat-sahabatku, tapi lagi-lagi mereka ‘menjauhiku’. “Faiy, lo kenapa sih ? kok nangis tiba-tiba,” tanya Silvy padaku begitu aku menyelesaikan tangisku. “Ngga papa, Vy,” aku mencoba tersenyum. Senyuman yang sungguh lirih jika kumaknai. “Faiy, tau nggak ? tadi gue ketemu loh sama dia,” ujar Silvy malu-malu. Dia pasti ingin bercerita tentang lelaki yang dia sukai. Aku tak begitu berharap banyak padanya untuk menjadi sahabatku. Kurasa semua sama. Tak ada yang setia. Kadang aku merasa hanya dimanfaatkan oleh ‘sahabat-sahabatku’ itu. Kala dibutuhkan, aku didekati. Begitu masalah mereka selesai, aku dicampakkan kembali. “Faiy, kenapa ya, Lara malah jadi jauh sama gue. Padahal gue deket banget sama dia. Dia yamg dulu paling ngerti gue. Sahabat gue,” Silvy curhat padaku tentang Lara yang begitu dekat dengannya, dulu. Sekarang ia lebih sering cerita padaku. Entah mengapa mereka jadi menjauh begitu. “Yah, Vy. Jangan merasa sendirian gitu dong,” balasku tersenyum. Aku menerawang,” Kalau lo sadar, Vy, Allah kan selalu bersama kita. Kita ngga pernah sendirian. Dia selalu menemani kita. Kalau kita masih merasa sendiri juga, berarti jelas kita ngga ingat Dia,” kata-kata itu begitu saja mengalir dari bibirku. Sesaat aku tersadar. Kata-kata itu juga tepat untukku. Oh, Allah, maafkanku selama ini melupakanmu. Padahal Dia selalu bersamaku. Tetapi aku masih sering merasa sendiri. Sedangkan Allah setia bersama kita sepanjang waktu. Bodohnya aku. Aku ngga pernah hidup sendiri. Ada Allah yang selalu menemaniku. Dan seharusnya aku sadar, dua malaikat bahkan selalu di sisiku. Tak pernah absen menjagaku. Kenapa selama ini aku tak menyadarinya? Dia akan selalu mendengarkan ‘curhatanku’. Dijamin aman. Malah mendapat solusi. Silvy tiba-tiba memelukku. “Sorry banget, Faiy. Seharusnya gue sadar. Selama ini tuh lo yang selalu nemenin gue, dengerin curhatan gue, ngga pernah bete sama gue. Dan lo bisa ngingetin gue ke Dia. Lo shabat gue. Kenapa gue baru sadar sekarang, saat kita sebentar lagi berpisah…” Silvy tak kuasa menahan tangisnya. Aku merasakan kehampaan sejenak. Air mataku juga ikut meledak. Akhirnya, setelah aku sadar bahwa aku ngga pernah sendiri dan ingat lagi padaNya, tak perlu aku yang mengatakan ‘ingin menjadi sahabat’ pada seseorang. Bahkan malah orang lain yang membutuhkan kita sebagai sahabatnya. Aku melepaskan pelukan kami. “ Makasih ya, Vy. Ngga papa koki kita pisah. Emang kalau pisah, persahabatan bakal putus. Kalau putus, itu bukan persahabatan,” kataku tersenyum. Menyeka sisa-sisa air mataku. Kami tersenyum bersama. Persahabatan yang indah, semoga persahabatan kami diridoi Allah. Sahabat itu, terkadang tak perlu kita cari. Dia yang akan menghampiri kita dengan sendirinya. Kita hanya perlu berbuat baik pada siapapun. Dan yang terpenting, jangan sampai kita melupakan Allah. Jangan merasa sepi. La takhof, wala tahzan, innallaha ma’ana..Dia tak pernah meninggalkan kita. Maka jangan pula tinggalkannya.